Agendakan Swasembada Kedelai !
Jakarta – Menyambut Kampanye Tempe yang diprakarsai KOWANI agar makanan tempe Indonesia Goes to UNESCO, 17/08/2026, ditanggapi positif oleh Ketua Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Jakarta Timur. Menurut Suyanto, Ketua Kopti Jakarta Timur seluruh gerakan koperasi yang beranggotakan perajin tahu tempe seluruh Indonesia sangat mendukung gerakan ini
Namun menurut, Suyanto gerakan ini juga harus disertai dengan usaha untuk menjaga fluktuasi harga kedelai yang naik turun tidak menentu. Kondisi fluktuatif ini sangat merugikan perajin tahu tempe. Karena itu, menurutnya, perlu ada patokan harga kedelai sehingga tidak merugikan perajin. “Masalahnya, kadang petani membeli kedelai tapi belum habis stok sudah naik lagi, sehingga keuntungan perajin dihabiskan untuk membeli stok baru lagi yang harganya sudah naik,” ujar Suyanto.
Kondisi ini menurutnya, sangat dipengaruhi oleh monopoli oleh hanya beberapa orang importir kedelai yang dapat mengontrol dan Tmemainkan harga. Posisi perajin sangat lemah. Upaya impor kedelai yang beberapa kali dicoba oleh sekunder koperasi perajin tahu tempe selalu kalah dengan para pengusaha tersebut. Bahkan inisiatif itu membuat koperasi sekunder terlilit masalah. “Saat sekunder koperasi dulu melakukan impor, para pengusaha swasta itu langsung menurunkan haga saat kedelai milik koperasi masuk ke Indonesia, sehingga koperasi waktu itu langssung rugi besar,” ujarnya.
KOPTI sangat mengharapkan perhatian pemerintah. “Peran negara sangat strategi untuk menjaga stok dan menetapkan harga kedelai tingkat nasional,” ujar Suyanto. Bulog, lanjutnya, harus difungsikan kembali untuk menjadi stabilisator harga kedelai kembali. Pangan rakyat ini tidak boleh begitu saja diserahkan pada harga pasar.
Selain peran Bulog, Suyanto mengharapkan peran Menteri Pertanian untuk menggalakkan kembali penanaman kedelai, supaya swasembada kedelai Indonesia dapat tercapai. Karena ini pangan rakyat, maka menurutnya, ketergantungan pada impor kedelai akan merusak reputasi dari upaya pemerintah untuk mengusahakan swasembada pangan. Intinya, pemerintah harus mengagendakan dengan sungguh-sungguh eksistensi perajin tahu tempe sebagai pelaku utama pengadaan pangan rakyat ini, punkas Suyanto.













