Example floating
Example floating
OPINI

IKA KOPMA, “ANGIN BEBAS”

×

IKA KOPMA, “ANGIN BEBAS”

Sebarkan artikel ini

Oleh IMAM FATUROHMIN

Matahari belum sepenuhnya luruh ketika sekelompok orang berkumpul di beranda itu. Mereka tidak membawa palu sidang, juga bukan stempel dinas yang berwibawa. Di luar, angin berdesir membawa aroma tanah basah dan lirik lawas yang samar: “Ada yang runtuh, ada yang tumbuh, dalam sunyi yang panjang…”

Maka, di sanalah riwayat itu bermula. Ketika sebuah wadah tak lagi sanggup menampung gelisah, manusia selalu menemukan cara untuk memahat jalannya sendiri.

Ada masanya ketika kita percaya bahwa sebuah lembaga besar—sebut saja Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN)—adalah sebuah payung megah tempat bernaungnya cita-cita Bung Hatta. Sebuah rumah besar bagi mereka yang percaya bahwa ekonomi bukan sekadar soal akumulasi modal di tangan segelintir orang, melainkan tentang kerja bersama, tentang gotong royong. 

Namun, sejarah sering kali menjadi pencatat yang ironis. Ketika sebuah organisasi gerakan perlahan-lahan merapat ke lingkaran kekuasaan, ia kerap kehilangan daya hidupnya. Ia terkooptasi. Meja-meja sidangnya menjadi klimis, pidato-pidatonya menjadi seragam, dan suaranya melunak demi menyelaraskan diri dengan irama gendang pemerintah.

Ketika tubuhnya menjadi terlalu besar dan kaku, ia kehilangan kepekaan untuk mendengar bisik-bisik dari bawah. Wadah aspirasi itu menjelma menjadi sebuah monumen yang megah, namun dingin.

Lalu, tibalah ujian itu, masalah Koperasi Desa Merah Putih. Di sana, di atas kertas-kertas formalitas, sebuah entitas lahir dengan nama “koperasi”. Namun, jamak diketahui, ia berdiri dengan melanggar kaidah paling mendasar dari jati diri koperasi itu sendiri. Ia mengangkangi prinsip kemandirian dan kesukarelaan. Karena lahirnya dipaksakan oleh syahwat kekuasaan. Dan apa yang dilakukan oleh sang pemegang mandat gerakan yaitu DEKOPIN?

Jawabnya: “Sunyi”. Mereka diam. Sebuah keheningan yang bersalah (the guilty silence). Ketika jati diri koperasi diinjak-injak, lembaga yang seharusnya menjadi benteng pertahanan justru memilih memalingkan muka.

Dari rahim kekecewaan itulah, Ikatan Alumni Koperasi Mahasiswa (IKA KOPMA) mengambil sebuah keputusan historis. Mereka memilih berdiri di luar. Bukan karena benci, melainkan karena cinta yang terlalu besar pada khitah gerakan ini tak boleh dibiarkan mati dalam dekapan birokrasi.

IKA KOPMA lahir bukan sebagai tandingan yang reaktif, melainkan sebagai sebuah alternatif yang genuine. Mereka bukanlah para akademisi menara gading yang hanya membaca koperasi dari diktat-diktat usang Barat, bukan pula birokrat yang pandai menyusun laporan di atas meja ber-AC. Para pendiri gerakan ini adalah orang-orang yang tumbuh di selasar-selasar KOPMA, yang tangannya pernah kasar karena memanggul beras, yang kepalanya pernah pening menghitung sisa hasil usaha (SHU) mahasiswa yang tak seberapa, dan yang jiwanya ditempa oleh diskursus-diskursus idealisme kampus. Mereka kaya akan pengalaman riil berkoperasi.

Sebab itu, ketika mereka berbicara, suaranya akan tajam. Ketajaman itu tidak lahir dari kebencian, melainkan dari presisi pengalaman. Mereka tahu persis di mana letak urat nadi koperasi yang tersumbat, dan mereka datang tidak hanya membawa kritik, tetapi menyodorkan seikat alternatif solusi yang membumi.

Pada akhirnya, gerakan ekonomi rakyat ini memang tak pernah bisa diikat dalam rantai birokrasi yang kaku. Ia adalah air yang akan selalu mencari celahnya sendiri untuk mengalir. Seperti sebaris puisi tua yang mengingatkan kita tentang hakikat sebuah pilihan:

“Sebab jalan pulang tak pernah tunggal,
dan burung-burung tahu ke mana sayap harus mengepak,
ketika sangkar emas telah berubah menjadi penjara.”

IKA KOPMA kini telah memilih jalannya, menjadi angin yang bebas, yang meniupkan kembali ruh koperasi yang sempat mati suri.

(Penulis adalah Pendiri IKA KOPMA, mantan Pengurus KOPMA UIN JAKARTA)