HET dapat mencegah harga jatuh di bawah harga produksi
Standardisasi harga ikan, sesuai dengan jenis dan volume harus segera dilakukan pemerintah, kata Nurodi, Ketua IKPI (Induk Koperasi Perikanan Indonesia) melalui release-nya kepada TempeNews, 3/09/20026.
Kata Nurodi, sebagaimana harga gabah yang ada HET (Harga Eceran Terendah) atau HET (Harga Eceran Tertinggi) harus mulai ditetapkan. Kalau pemerintah tidak campur dalam penentuan harga ikan ini, maka nelayan akan selalu menjadi korban dari permainan harga para tengkulak. “Nah, penentuan harga dari pemerintah ini, seperti harga gabah, akan dihitung berdasarkan kelayakan dan ongkos produksi nelayan dalam menangkap atau melakukan budidaya ikan,” ujar Ketua Puskud Mina Jawa Barat ini.
Pengalaman baru-baru ini ketika harga solar naik, yang terbebani adalah nelayan tangkap, karena harga ikan bergeming. Harga ikan bergerak tidak sesuai dengan biaya produksi. Artinya, harga ikan tidak bisa menyesuaikan dengan tingginya harga produksi, seperti petani padi, yang harga terendahnya ditentukan oleh pemerintah secara berkala. Termasuk mempertimbangkan inflasi di masyarakat yang memengaruhi biayai hidup keluarga nelayan.
Selanjutnya, kata Nurodi, untuk memantau kestabilan harga ikan nasional, maka Koperasi Perikanan meminta pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan agar seluruh hasil ikan tangkapan nelayan di seluruh Indonesia dijual di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Dan TPI tersebut pengelolaannya diserahkan ke Koperasi Perikanan di mana tempat pelelangan ikan berada. “Sehingga rantai pasok produk ikan tidak terlalu panjang antara produsen nelayan dan konsumen akhir,” ujar Nurodi.
Ketentuan keharusan pendaratan ikan di TPI bisa memastikan konsolidasi data perikanan, khususnya dalam penentuan kebijakan soal harga, subsidi, dan perkuatan jaringan pasar perikanan dalam negeri. Dengan demikian, kata Nurodi, data perikanan menjadi valid yang menjadi landasan yang tepat bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan di bidang perikanan. “Jangan sampai data perikanan diambil dari data bodong yang tidak jelas sumbernya,” pungkas Nurodi.













