Terluas di Dunia
TEMPENews – Indonesia merupakan negara yang kaya akan peninggalan sejarah dan budaya. Salah satu monumen prasejarah kebanggaan bangsa yang memegang rekor dunia adalah Benteng Wolio, atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Keraton Buton. Terletak di Kota Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, benteng ini telah dinobatkan oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dan Guinness Book of World Records sebagai benteng terluas di dunia. Luas kompleks benteng ini mencapai sekitar 23,375 hektar dengan keliling tembok pertahanan sepanjang 2,7 kilometer. Laporan perjalanan ini disusun untuk menokumentasikan keindahan arsitektur, nilai sejarah, serta keunikan budaya yang penulis saksikan secara langsung selama kunjungan ke situs monumental ini.
Perjalanan Menuju Lokasi
Perjalanan dimulai dari penerbangan menuju Bandara Betoambari di Kota Baubau. Kalau dari Jakarta atau Surabaya dan kota-kota lainnya, akses harus melalui bandara transit Sultan Hasanuddin, Makassar, lalu menuju kota Bau-Bau di tempuh dalam waktu 45 menit. Dari Bandara Betoambari, Bandara Bau-bau menuju pusat kota di tempuh sekitar 20 menit.
Dari pusat kota Baubau, Benteng Wolio sangat mudah diakses karena letaknya yang berada di puncak bukit tinggi. Penulis menggunakan transportasi darat lokal dengan waktu tempuh kurang dari 20 menit. Sepanjang tanjakan menuju benteng, pemandangan kota dan pesisir Selat Buton perlahan mulai terlihat memanjakan mata. Posisi geografis benteng yang berada di atas bukit ini mencerminkan strategi militer masa lalu, di mana para penguasa Kesultanan Buton dapat memantau pergerakan kapal asing maupun potensi ancaman musuh dari segala arah mata angin.
Kemegahan Arsitektur dan Material Unik
Setibanya di gerbang utama, pandangan penulis langsung tertuju pada kokohnya tembok pembatas yang terbuat dari susunan batu kapur. Hal paling menakjubkan dari arsitektur Benteng Wolio adalah proses pembangunannya yang tidak menggunakan semen modern ataupun besi penyangga. Masyarakat Buton kuno pada abad ke-16 menggunakan campuran putih telur, kapur, dan cairan tanah liat sebagai bahan perekat organik. Meskipun dibangun dengan teknologi yang sangat sederhana pada masanya, benteng ini terbukti mampu berdiri tegak melintasi waktu selama berabad-abad, menahan guncangan gempa, serta paparan cuaca ekstrem tropis.
Tembok benteng memiliki ketinggian bervariasi antara 1 hingga 8 meter dengan ketebalan mencapai 2 meter. Di sepanjang pos pertahanan, terdapat 12 gerbang (Lawa) dan 16 bastion (Baluarte) yang masing-masing dilengkapi dengan meriam kuno buatan Portugis dan Belanda. Setiap gerbang memiliki nama dan fungsi khusus yang mencerminkan sistem penjagaan ketat kesultanan. Keberadaan komponen-komponen ini menegaskan bahwa Benteng Wolio bukan sekadar batas wilayah administrasi, melainkan sebuah mahakarya sistem pertahanan militer yang sangat canggih pada zamannya.
Warisan Budaya
Memasuki area dalam benteng, penulis serasa terlempar kembali ke masa kejayaan Kesultanan Buton. Di dalam kawasan pemukiman adat yang masih dihuni oleh keturunan bangsawan Buton ini, terdapat beberapa situs penting. Salah satunya adalah Masjid Agung Keraton Buton. Di depan masjid, berdiri sebuah tiang bendera kayu (Kasulana Tombi) yang telah berusia lebih dari 300 tahun namun tetap kokoh. Selain itu, terdapat Kamali (istana sultan) dan makam para sultan terdahulu yang dikeramatkan.
Berdasarkan penjelasan pemandu lokal, Benteng Wolio dibangun secara bertahap mulai dari masa pemerintahan Raja Buton III, La Sangaji, dan diselesaikan pada masa Sultan Buton IV, Sultan Dayanu Ikhsanuddin. Benteng ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus pelindung bagi seluruh rakyat dari serangan bajak laut maupun penetrasi kekuatan kolonial Barat. Berbeda dengan banyak daerah lain di Nusantara yang jatuh ke tangan penjajah, Kesultanan Buton berhasil mempertahankan kedaulatannya salah satunya berkat perlindungan kokoh dari benteng pertahanan terluas ini.
Interaksi Sosial
Hal yang membuat kunjungan ke Benteng Wolio ini terasa sangat berkesan adalah kehangatan dari masyarakat adat setempat. Kawasan di dalam benteng bukanlah situs mati, melainkan sebuah desa adat yang hidup dan dinamis. Penulis berkesempatan berbincang dengan tetua adat mengenai falsafah hidup masyarakat Buton, seperti ‘Bolimo Karo Somanamo Lipu’ yang berarti mengorbankan kepentingan pribadi demi keselamatan negeri.
Keramahan warga lokal, aroma masakan tradisional yang tercium dari rumah-rumah panggung kayu, serta anak-anak yang bermain riang di sekitar meriam tua memberikan atmosfer magis yang jarang ditemukan di destinasi wisata sejarah lainnya.
Kunjungan ke Benteng Wolio di Pulau Buton memberikan refleksi mendalam mengenai kehebatan peradaban masa lalu bangsa Indonesia. Predikatnya sebagai benteng terluas di dunia sangat layak disandang, bukan hanya karena ukuran fisiknya, tetapi juga karena nilai sejarah dan kultural yang terkandung di dalamnya. Benteng ini adalah simbol persatuan, ketangguhan, dan kecerdasan rekayasa lokal (TEMPE-News: Berbagai Sumber)











