DIALOG TUBUH ROMANTIS
TEMPENews – Tari Lalayon (atau sering disebut juga Tari Lala) adalah tari tradisional yang merupakan sarana pergaulan di Maluku Utara. Tari ini berkembang di Wilayah pesisir Halmahera Timur, Halmahera Tengah seperti di masyarakat Weda, Patani dan Maba bahkan sampai Kepulauan Sula.
Tarian ini sangat populer karena mengusung pesan romantis, asmara, cinta kasih muda-mudi, sekaligus sebagai simbol rasa syukur dan kehangatan sosial masyarakat setempat.Menurut cerita rakyat dan hikayat lokal di wilayah Halmahera, Tari Lalayon lahir dari dinamika kehidupan masyarakat pesisir di masa lampau. Konon, terdapat kisah tentang sepasang suami istri yang hidup sangat rukun dan saling mencintai di sebuah pesisir pantai. Ketika sang suami meninggal dunia karena sakit keras, sang istri dirundung duka yang amat mendalam
Masyarakat sekitar kemudian mencoba menghibur sang istri dengan gerakan-gerakan santun yang penuh kehangatan agar ia bisa bangkit dari kesedihannya. Lambat laun, ekspresi hiburan tersebut bertransformasi menjadi tari pergaulan yang melambangkan bahwa cinta, kasih sayang, dan kebersamaan dapat menyembuhkan duka.
Dalam perkembangannya, tarian ini menjadi wahana interaksi muda-mudi untuk menyatakan asmara dan mengikat tali silaturahmi. Saat ini, Tari Lalayon diakui sebagai identitas budaya penting dan kerap dipentaskan dalam pesta pernikahan, penyambutan tamu kehormatan, serta upacara adat di Negeri yang di Pimpinan Gubernur Shelry Tjoanda ini.
Gerakan dan Simbol
Tari Lalayon dibawakan secara berpasangan oleh penari laki-laki dan perempuan dengan jumlah yang sama. Gerakannya sangat dinamis, harmonis, dan penuh dengan dialog tubuh yang romantis
Tarian dimulai dengan posisi penari pria dan wanita berhadapan, saling melempar pandangan. Penari pria melakukan gerakan estetis yang melambangkan proses menggoda atau merayu, sementara penari wanita menyambutnya dengan senyum simpul yang malu-malu tapi menerima.
Gerakan langkah kaki dan ayunan tangan dibuat mengalir lembut, mencerminkan kehangatan, komunikasi yang intim, dan rasa saling menghargai antarpasangan. Selain berpasangan, ada fase di mana mereka menari berkelompok membentuk formasi tertentu. Ini menggambarkan struktur sosial masyarakat Maluku Utara yang menjunjung tinggi gotong royong dan solidaritas
Kostum dan Musik
Pakaian dan perlengkapan yang dikenakan para penari Lalayon memiliki pakem tersendiri yang kental dengan nuansa adat Kesultanan Maluku Utara. Setiap penari membawa dua helai lenso (saputangan) kain berwarna putih di kedua tangan mereka. Kain ini dilambai-lambaikan seirama dengan ketukan musik untuk menambah keanggunan gerakan sekaligus simbol kesucian niat dan cinta.
Penari Perempuan menggunakan baju adat khas berupa Kebaya yang dipadukan dengan bawahan kain Songket atau kain tenun tradisional. Rambut mereka umumnya disanggul rapi dan dihiasi aksesori kepala. Sementara penari laki-laki mengenakan setelan baju dan celana panjang yang dilapisi dengan jubah panjang atau pakaian adat yang kerap disebut Baju Koja (terinspirasi dari pakaian Kesultanan Ternate.
Kostum itu kemudian diingin musik yang membawa suasana romantis dan syahdu. Tari Lalayon memang tidak lepas dari musik pengiringnya yang khas, yang memadukan budaya lokal dan pengaruh luar (seperti irama Timur Tengah dan Eropa.
Musik dihasilkan dari perpaduan harmonis antara gesekan fiyol (biola) dan ketukan tifa (kendang khas Indonesia Timur. Iringan musik ini biasanya juga disertai dengan nyanyian atau lantunan syair bermelodi melankolis namun tetap riang, yang berisi pesan-pesan moral, petuah kehidupan, ataupun pantun-pantun asmara.
Secara sosiologis, Tari Lalayon bukan sekadar hiburan visual. Tarian ini berfungsi sebagai media pelestarian nilai leluhur, perekat integrasi sosial antar kampung, serta mempertegas identitas kultural masyarakat Halmahera di tengah arus modernisasi. Melalui tarian ini, generasi muda diajarkan cara berinteraksi secara santun, beretika, dan penuh rasa hormat terhadap sesama (TEMPENews: Dari berbagai sumber)



