Example floating
Example floating
SERBA-SERBI

ASPAL BUTON: Riwayatmu Dulu dan Harapan Kini

×

ASPAL BUTON: Riwayatmu Dulu dan Harapan Kini

Sebarkan artikel ini
Tambang Aspal Alam Buton (Foto: Istimewa)

Buton – TEMPENews – Rakyat di beberapa daerah ex Kesultanan Buton sempat meradang, akibat kabar tak sedap tentang Smelter Aspal yang hendak dibangun di sebuah daerah di Pulau Jawa. Kabar itu tentu saja membuat panik, sejumlah tokoh Buton mengeluarkan petisi, politisi pun bergerak. Walaupun kenyataannya kabar burung itu hanyalah pepesan kosong, alias hoax.

Aspal Buton memang kebanggaan masyarakat Buton, bahkan seperti lengket dalam merk orang Buton sejak dulu. Kesohornya Aspal Buton sudah ada sejak dulu. Deposit aspal alam yang disebut-sebut terbesar di dunia ini sudah lama di kenal dunia.

Paling tidak jejak komersial Aspal Buton (Asbuton) bermula pada tahun 1924, ketika seorang geolog berkebangsaan Belanda bernama W.H. Hetzel menemukan deposit batuan aspal alami di Pulau Buton. Setahun kemudian, hak konsesi penambangan diberikan kepada pengusaha Belanda, A. Volker, yang menandai lahirnya era eksploitasi di bawah bendera perusahaan N.V. Mijnbouw en Cultuur Maatschappij Buton. 

Sejak tahun 1926, penambangan terbuka mulai masif dilakukan di wilayah Kabungka dan Lawele. Pada masa kolonial ini, kualitas Asbuton langsung diakui dunia. Emas hitam dari Buton dikirim melalui Pelabuhan Banabungi untuk melapisi jalan-jalan modern di kota pelabuhan Asia, bahkan diekspor hingga ke Eropa dan Amerika Serikat karena ketahanan alaminya yang luar biasa terhadap cuaca tropis

Pasca-kemerdekaan Indonesia, pengelolaan aset ini diambil alih oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan nama Perusahaan Aspal Negara (PAN) demi menggerakkan infrastruktur dalam negeri. Sayang, penggunaan aspal Buton semakin meredup. Padahal, Aspal Buton disebut-sebut punya keunggulan dibanding aspal minyak yang saat ini banyak diimpor. 

Aspal Buton adalah aspal alam murni yang mengendap di dalam batuan sedimen selama jutaan tahun. Karakteristik fisik ini memberikan beberapa keunggulan teknis, seperti lebih keras dan tahan beban. Kandungan aspaltin yang tinggi membuatnya sangat kuat menahan deformasi atau kerusakan akibat kendaraan berat. 

Aspal alam ini juga mempunyai elastisitas  yang maksimal. Kadar resin alami yang tinggi mengoptimalkan fleksibilitas jalan, mengurangi risiko retak (cracking) akibat perubahan suhu. Termasuk juga ketahanannya terhadap air.  Bitumen alami Aspa Buton mengikat agregat lebih kuat, mencegah pelepasan aspal (stripping) akibat genangan air hujan. Karena itu, Aspal alam ini lebih ramah lingkungan. Pasalnya, pengolahan beberapa varian Aspal Buton menggunakan energi panas yang lebih rendah sehingga menekan emisi karbon. 

Masa Depan dan Harapan Hilirisasi

Adalah realitas, bahwa apal impor saat ini mendominasi konsumsi aspal dalam negeri. Karena itu, pemerintah Indonesia, dikabarkan mulai merencanakan proses industrialisasi dan hilirisasi Aspal Buton. Bahkan saat ini, ditengarai telah beroperasi puluhan pabrik pengolahan yang menghasilkan 5 jenis varian olahan siap pakai (seperti CPHMA, B520, hingga produk ekstraksi murni) dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 95,5%. 

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) kian agresif mengintegrasikan produk Asbuton (seperti varian Aspal Buton A30) ke dalam proyek-proyek strategis termasuk jalan tol. Langkah optimalisasi ini ditargetkan mampu menghemat devisa negara hingga Rp4 triliun per tahun, sekaligus memposisikan kembali Indonesia sebagai raja aspal alam global. 

Kini, nasib Aspal Buton berada di persimpangan jalan. Dukungan penuh terhadap riset sirkular—seperti inovasi dari Universitas Indonesia yang memodifikasi Asbuton dengan oli bekas demi kekuatan ekstra—serta ketegasan regulasi lokal menjadi kunci utama agar “emas hitam” ini tidak lagi menjadi penonton di tanah airnya sendiri. 

Betapapun usaha pemerintah menuju pada idealisme penggunaan produk dalam negeri, khususnya aspal Buton, namun dukungan dan usaha ini harus diawasi terus menerus dengan dukungan regulasi yang komprehensif agar ada proteksi terhadap penggunaan aspal dalam negeri ini. Sebagaimana negara lain melindungi keunggulan produk lokalnya. (Adiyaman; dari berbagai sumber)