Example floating
Example floating
SERBA-SERBI

SOAMI, Pangan Pokok Khas Pesisir 

×

SOAMI, Pangan Pokok Khas Pesisir 

Sebarkan artikel ini
SOAMI, Pangan Lokal Wakatobi (Foto: Istimewa)

Wakatobi Mandiri Pangan Sejak Dulu

Bagi masyarakat Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Soami (atau sering dieja Kasoami) bukan sekadar hidangan pengisi perut. Makanan tradisional berbentuk kerucut menyerupai tumpeng mini ini adalah warisan budaya, simbol ketahanan pangan, dan identitas kuliner yang telah menghidupi masyarakat pesisir selama berabad-abad sebagai makanan pokok. Kehadiran nasi di Wakatobi, justru menjadi makanan pengganti dari Soami ini.

Di tengah pesona wisata bawah laut Wakatobi yang mendunia, Soami tetap berdiri tegak sebagai primadona meja makan yang wajib dicicipi oleh setiap pelancong. Soami tidak lepas dari kondisi geografis wilayah Wakatobi dan eks-Kesultanan Buton. Struktur tanah kepulauan yang didominasi batuan karang membuat tanaman padi sulit tumbuh subur. Sebaliknya, singkong (ubi kayu) justru tumbuh melimpah dan menjadi tanaman yang sangat tangguh di cuaca tropis kering.

Masyarakat lokal kemudian memutar otak untuk mengolah singkong menjadi makanan pokok yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga tahan lama. Dari kreativitas dan adaptasi terhadap alam inilah Soami tercipta.

Olahan Tradisional

Proses pembuatan Soami membutuhkan ketelatenan untuk menghasilkan tekstur lembut yang pas. Singkong pilihan harus melalui proses pengurangan kadar air yang ketat. Singkong dikupas, dicuci, lalu diparut. Hasil parutan dimasukkan ke dalam karung kain dan ditekan menggunakan batu pemberat selama beberapa jam hingga sarinya keluar dan menyisakan ampas singkong kering yang disebut kaopi. Proses ini juga penting untuk menghilangkan kadar racun alami pada singkong.

Ampas kering dihancurkan dan diayak halus hingga menjadi butiran tepung yang gembur. Lalu, tepung singkong dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk kerucut bernama soami-a, yang dianyam secara tradisional dari daun kelapa atau daun pandan hutan. Adonan dikukus di atas tungku selama 15–20 menit hingga matang sempurna dan menyatu. Aroma wangi dari daun kelapa akan meresap ke dalam Soami.

Varian

Soami hadir dalam beberapa variasi yang menyesuaikan selera dan momen penyajian. Soami Tugi: Varian paling umum berbentuk kerucut. Teksturnya berserat lembut dengan rasa yang tawar dan alami. Soami Pepe: Setelah matang, Soami ini ditumbuk atau dipukul-pukul (dipepe) dengan campuran minyak kelapa dan bawang goreng. Teksturnya menjadi kenyal, gurih, dan langsung nikmat disantap meski tanpa lauk. Hugu-hugu: Dibuat dari sisa singkong yang sengaja dikeringkan di bawah sinar matahari hingga menghitam. Memiliki aroma khas yang kuat dan rasa yang unik.

Seni Menikmati

Karena rasanya yang cenderung netral, Soami adalah “kanvas kosong” yang sempurna untuk hidangan pendamping yang kaya rempah. Cara terbaik menikmati pangan ini adalah menyantapnya selagi hangat bersama Parende, sup ikan kuah kuning khas Wakatobi yang asam, pedas, dan segar serta sayur angkara segar. Lembutnya Soami yang dicelupkan ke dalam kuah ikan yang gurih memberikan sensasi kuliner pesisir yang tiada duanya.

Selain lezat, Soami terkenal sangat awet dan tidak mudah basi. Sifatnya yang tahan lama ini menjadikannya bekal utama bagi para pelaut dan nelayan Wakatobi saat harus berlayar berhari-hari di tengah lautan. Soami adalah bukti nyata bagaimana alam, tradisi, dan rasa menyatu sempurna di ujung Tenggara Sulawesi ini.  

Betapa pun riuhnya issue ketahanan pangan Nasional, Wakatobi sejatinya telah mandiri pangan dari Soami ini sejak dulu. (TEMPE-News; Adiyaman)