KERAS SEBELUM BERTEMU KUAH IKAN
MALUKU – TEMPENews – Kalau sedang berada di Maluku atau Papua dan bertamu ke rumah kerabat, lalu disajikan makanan semacam roti yang terbuat dari pati sagu, maka jangan buru-buru menggigitnya. Roti sagu ini seperti lempengan benda keras ke coklatan yang dipanggang menggunakan cetakan tanah liat bernama Forna. Nama makanan itu dikenal sebagai Sagu Salempe atau Sagu Lempeng.
Makanan ini memang keras, kalau tidak hati-hati menggigitnya, maka bisa jadi gigi yang patah. Namun, jika tahu caranya, maka hanya kelezatan dan keunikan rasa yang ada. Sehingga, panganan ini harus disantap dengan kuah ikan atau sayur, lalu dicelup ke dalam kuahnya. Maka, makanan ini hanya dalam hitungan detik sudah empuk untuk di santap.
Sagu Salempe juga bisa menjadi teman minum teh atau kopi pagi-pagi. Sebelum turun ke kebun atau bekerja lainnya, panganan ini adalah sumber energi yang bertahan lama. Tapi tentu saja, harus diingat! Jika ingin menyantapnya, harus dicelup dulu dalam kuah baru dapat disantap dengan nikmat.
Di balik bentuknya yang sederhana, makanan ini menyimpan riwayat, sejarah, serta falsafah hidup masyarakat Indonesia Timur yang sangat mendalam. Barangkali kerasnya panganan ini dapat menggambarkan kerasnya karakter masyarakatnya, namun akan luluh jika bertemu dengan kelembutan dan kebaikan.
Jauh sebelum beras menjadi makanan pokok yang mendominasi Nusantara, masyarakat Maluku dan Papua menggantungkan hidup pada pohon sagu (Metroxylon sagu). Tanaman ini tumbuh subur di wilayah rawa dan tanah basah Indonesia Timur.
Sagu Salempe lahir dari kebutuhan hidup masyarakat masa lampau. Karena sagu mentah cepat rusak, adonan pati sagu diperas, disaring, dan dipanggang di atas api kayu bakar hingga benar-benar kering dan mengeras.
Proses pembakaran ini membuat Sagu Salempe menjadi sangat awet dan tahan berbulan-bulan tanpa pengawet zat kimia. Makanan ini pun menjadi bekal utama para nelayan, pelaut, dan pemburu saat melakukan perjalanan jauh membelah lautan atau masuk ke dalam hutan.
Tradisi memanggang sagu lempeng telah diwariskan turun-temurun lintas generasi. Cara pembuatannya di pedalaman Papua dan pulau-pulau di Maluku masih mempertahankan peralatan peninggalan leluhur
Falsafah “Sagu Salempeng Patah Dua”
Riwayat Sagu Salempe tidak sekadar berbicara tentang ketahanan pangan, melainkan juga tentang ikatan sosial yang kuat di Maluku. Dalam kebudayaan masyarakat Maluku (terutama di daerah Ambon dan sekitarnya), dikenal sebuah falsafah adat dan perekat sosial yang sangat sakral, yaitu: “Sagu salempeng dipata dua” (Satu sagu lempeng dipatahkan menjadi dua).
Falsafah ini bermakna mendalam tentang solidaritas, kebersamaan, dan rasa senasib sepenanggungan. Filosofinya menggambarkan bahwa sekecil atau sesedikit apa pun rezeki yang dimiliki, jika ada saudara atau sesama yang kekurangan, makanan tersebut harus dibagi rata.
Pepatah hidup ini terbukti kuat menjadi simbol perdamaian serta penyatu hubungan Pela Gandong (ikatan persaudaraan antar-negeri/desa, baik yang beragama Islam maupun Kristen) di Maluku untuk menjaga kerukunan sosial.
Betapapun panganan ini sudah banyak ditinggalkan karena dominasi beras sebagai makanan utama masyarakat Maluku dan Papua saat ini, namun untuk menuju variasi pangan sebagai bagian dari alternatif menghidupkan pangan lokal guna memperkaya sumber pangan nasional, memasyarakatkan kembali Sagu Salempe adalah pilihan yang harus dilakukan. (Penulis; Adiyaman, dari berbagai sumber)







