Oleh: Rajo Mengiyan
Di sebuah kedai kopi di Batu 9, Tanjungpinang, diawal pekan lalu, seorang teman lama bercerita tentang masa depan Lingga. Ceritanya begitu bersemangat, sampai saya merasa perlu datang sendiri ke sana.
Namanya Agustinus Marpaung. Sekarang ia menjadi advokat di Kota Gurindam.
Kami sebenarnya sedang bernostalgia. Sudah lama tidak bertemu. Obrolan tentang masa lalu, kabar kawan, dan perubahan kota akhirnya membawa kami pada satu nama yakni Lingga.
Agus mendadak bersemangat.
“Lingga ini bisa menjadi pusat ekonomi baru di Kepri,” katanya.
Saya menoleh. Apa yang membuatnya seyakin itu?
Sawit.
Investasi perkebunan kelapa sawit yang mulai bergerak di Kabupaten Lingga, menurut Agus, menyimpan peluang besar untuk mengubah wajah ekonomi daerah itu.
Ia bukan orang yang hanya mendengar cerita dari kejauhan. Pekerjaannya sebagai advokat membuatnya beberapa kali bolak-balik ke Lingga untuk mengurus persoalan lahan klien. Ia bahkan pernah bermalam di salah satu desa di Singkep Barat.
Di sana, ia berbincang dengan warga. Mendengar cerita mereka. Menyaksikan bagaimana rencana investasi mulai bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari.
Agus menyebut Desa Tinjul.
Menurut pengamatannya, sebagian warga menyambut kehadiran perusahaan sawit karena melihat peluang ekonomi yang sebelumnya tidak mereka miliki. Lahan yang dahulu ditanami karet telah dibeli perusahaan berdasarkan kesepakatan. Sebagian warga juga memperoleh kesempatan bekerja.
Ada pula cerita mengenai bantuan menjelang Lebaran yang diterima sebagian masyarakat.
“Saya bolak-balik ke sana. Saya bertemu masyarakat langsung,” katanya.
Saya membayangkan kehidupan warga yang selama ini bergantung pada kebun karet. Getah disadap, dikumpulkan, lalu dijual. Hasilnya menjadi uang belanja, biaya sekolah anak, dan kebutuhan rumah tangga.
Begitulah kehidupan di kebun: tidak selalu menghasilkan banyak, tetapi menjadi sandaran yang sudah dikenal selama bertahun-tahun.
Lalu perusahaan datang.
Lahan dibeli. Sebagian warga beralih menjadi pekerja. Aktivitas ekonomi baru mulai tumbuh.
Bagi sebagian orang, perubahan itu bisa menjadi kesempatan. Bagi yang lain, tentu ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum melepas tanah yang selama ini menjadi sumber penghidupan.
Sebab, tanah bukan barang biasa bagi masyarakat desa. Tanah bisa menjadi tabungan hari tua, warisan untuk anak, sekaligus jaminan kehidupan ketika pekerjaan tidak lagi tersedia.
Uang hasil penjualan tanah mungkin diterima sekali. Sementara kebutuhan hidup datang setiap hari.
Di situlah pertanyaan pentingnya: setelah tanah berpindah tangan, apakah kehidupan keluarga akan menjadi lebih baik?
Agus melihat peluang itu secara positif. Menurut dia, kehadiran perusahaan dapat membuka jalan bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan baru.
Tetapi saya kira, ukuran keberhasilan investasi tidak cukup sampai di sana.
Pekerjaan harus tersedia secara berkelanjutan. Warga perlu memperoleh kesempatan yang adil. Kesepakatan jual beli lahan harus jelas. Dan apabila ada persoalan, penyelesaiannya harus mengikuti hukum serta melindungi hak semua pihak.
Perusahaan tentu datang untuk mencari keuntungan. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun, masyarakat juga tidak boleh sekadar menjadi penonton ketika tanah di sekeliling mereka berubah menjadi kawasan produksi.
Kalau perusahaan berkembang dan warga ikut sejahtera, investasi menemukan maknanya.
Kalau hanya kebun yang membesar sementara kehidupan warga tidak banyak berubah, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Sehari setelah percakapan itu, saya kembali ke Lingga.
Saya pernah ditugaskan meliput daerah ini pada masa-masa awal setelah Kepulauan Riau resmi berpisah dari Riau. Waktu itu, saya datang sebagai wartawan yang berusaha mengenali sebuah daerah dengan kekayaan sejarah dan budaya Melayu yang kuat.
Kini saya datang lagi.
Daik masih memiliki pesona yang sama. Keramahan masyarakatnya masih terasa. Aktivitas nelayan, suasana kampung, dan identitas Melayu tetap menjadi bagian penting kehidupan di sana.
Namun, waktu tidak berhenti.
Jalan-jalan mulai terbuka. Infrastruktur berkembang. Di sejumlah kawasan, wajah daerah mulai berubah.
Saya juga melihat langsung hamparan lahan di wilayah Lingga Utara yang mulai dibuka untuk pengembangan perkebunan sawit.
Jadi, cerita Agus di kedai kopi itu bukan sekadar angan-angan. Ada aktivitas pembukaan lahan yang bisa saya saksikan sendiri.
Tetapi ada perbedaan antara investasi yang mulai berjalan dan masa depan yang sedang dijanjikan.
Pembukaan lahan adalah tahap awal. Perkebunan harus berkembang. Pengelolaannya harus berjalan. Sementara rencana pembangunan pabrik pengolahan sawit masih perlu diwujudkan.
Justru pabrik itulah yang menarik untuk ditunggu.
Jika benar terealisasi, Lingga berpeluang memperoleh manfaat ekonomi yang lebih luas. Hasil perkebunan tidak hanya diproduksi, tetapi juga diolah. Kebutuhan tenaga kerja dapat bertambah. Angkutan, perdagangan, dan usaha pendukung berpeluang tumbuh.
Agus membayangkan pola kemitraan melalui koperasi, seperti yang dikenal dalam pengembangan perkebunan di daerah lain.
Harapannya, masyarakat tidak hanya berhubungan dengan perusahaan ketika menjual tanah, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam kegiatan ekonomi yang tumbuh setelahnya.
Itu harapan yang masuk akal. Namun, pelaksanaannya harus nyata, bukan sekadar rencana.
Sebab, yang dibutuhkan Lingga bukan hanya perusahaan yang datang, melainkan kegiatan ekonomi yang mampu bertahan dan memberi manfaat kepada masyarakat dalam jangka panjang.
Saya kembali teringat warga yang dahulu hidup dari kebun karet.
Mereka mungkin tidak terlalu memikirkan istilah hilirisasi. Mereka juga tidak harus memahami berapa besar nilai investasi yang masuk ke Lingga.
Yang mereka perlukan jauh lebih sederhana.
Pekerjaan yang bisa diandalkan. Penghasilan yang cukup untuk keluarga. Kepastian bahwa anak-anak mereka memiliki masa depan yang lebih baik.
Jika investasi sawit mampu membuka jalan ke arah itu, perubahan di Lingga akan memiliki arti yang sesungguhnya.
Tetapi pembangunan juga tidak boleh membuat Lingga melupakan kekayaan yang telah dimilikinya.
Laut tetap menjadi sumber kehidupan nelayan. Kebun rakyat tetap perlu mendapat perhatian. Lingkungan harus dijaga. Dan budaya Melayu yang menjadi identitas daerah ini tidak boleh tersisih oleh pertumbuhan ekonomi.
Lingga tidak harus memilih antara maju dan mempertahankan jati dirinya.
Keduanya bisa berjalan bersama, asalkan pembangunan dikelola dengan bijaksana.
Saya senang bisa kembali ke Daik. Ada perasaan seperti bertemu kawan lama yang kini memiliki banyak cerita baru.
Dulu, saya mengenal Lingga melalui sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakatnya. Sekarang, saya melihat daerah ini mulai membuka peluang ekonomi baru melalui investasi perkebunan.
Apakah Lingga kelak benar-benar menjadi pusat ekonomi baru di Kepulauan Riau?
Belum ada yang bisa memastikan. Pembukaan lahan baru permulaan. Pabrik masih menjadi rencana. Manfaat investasi pun perlu dibuktikan melalui kehidupan masyarakat yang semakin baik.
Tetapi peluang itu ada.
Dan bagi saya, cerita paling menarik dari perubahan Lingga bukanlah berapa luas lahan yang akan menjadi kebun sawit.
Melainkan apakah suatu hari nanti, seorang ayah yang dahulu menggantungkan hidup dari getah karet bisa memperoleh penghasilan yang lebih baik. Apakah anaknya memiliki kesempatan bekerja tanpa harus pergi jauh meninggalkan kampung halaman. Apakah keluarga di desa bisa menikmati hasil pembangunan tanpa kehilangan kepastian atas hak mereka.
Itulah kemajuan yang layak dirayakan.
Dan Lingga, dengan segala potensi serta identitas Melayunya, kini sedang menunggu pembuktian itu.
Bersambung.













