Example floating
Example floating
OPINI

HAN Kerabat Dekat Tanggung Renteng

×

HAN Kerabat Dekat Tanggung Renteng

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Oleh Sarjono Amsan

Di hamparan sejarah ekonomi kita, kemandirian acap kali diperlakukan seperti bayang-bayang yang dipaksa lahir dari instruksi birokrasi, bukan dari benturan kebutuhan riil di akar rumput. Kita lupa bahwa sebuah peradaban tidak dibangun oleh titah yang turun dari langit administrasi, melainkan dari liatnya jemari yang saling menggenggam di tanah yang becek.

Di Jepang, sebuah negeri yang akrab dengan lindu dan sunyi, lahirlah Han—sebuah unit kecil, sebentuk sel yang hidup dalam tubuh Japanese Consumers’ Co-operative Union (JCCU). Han bukan sekadar angka dalam statistik koperatif. Ia adalah lingkaran kecil kurang lebih 10 pasang mata warga yang bertemu setiap minggu. 

Di sana, di atas tikar tatami atau di sudut ruang tamu yang digilir sebagai titik distribusi, mereka tidak sedang melakukan transaksi yang dingin. Mereka sedang mengorganisasi hajat hidup melalui joint buying (pembelian bersama). Ada disiplin yang sunyi namun kokoh di dalam Han. Berbasis pre-order, mereka memesan apa yang benar-benar mereka butuhkan. 

Maka, Han tak pernah menyimpan stok, koperasi sekunder mereka pun tak menimbun barang. Ia adalah sebuah koreografi ekonomi yang presisi, di mana pasokan berdansa seirama dengan kebutuhan. Di sini, kekuatan ekonomi tidak lahir dari modal yang bengkak, melainkan dari ikatan sosial yang berdisiplin tinggi. Sebuah bentuk perlawanan anggun terhadap kapitalisme yang rakus menimbun.

Mari kita alihkan pandangan ke selatan, ke tanah Jawa Timur yang debunya menyimpan jejak panjang sejarah keguyuban. Kita memiliki Sistem Kelompok Tanggung Renteng pada Koperasi Wanita (Kopwan). Selama puluhan tahun, kaum perempuan di desa-desa berkumpul dalam kelompok kecil, memikul risiko bersama atas modal simpan pinjam yang digulirkan. Jika satu orang limbung, yang lain menopang. Bukankah ini adalah kerabat dekat dari Han di Jepang? Keduanya adalah makhluk dari rahim yang sama: “modal sosial”.

Bayangkan sebuah transformasi masif. Bagaimana jika keteguhan tanggung renteng yang berbasis simpan pinjam di Jawa Timur itu dikawinkan dengan nalar konsumen Han di Jepang? Kelompok simpan pinjam kita tidak lagi sekadar memutar uang untuk konsumsi yang habis menguap, melainkan mengorganisasi diri menjadi unit-unit pembelian bersama. Menjadi benteng konsumen yang menentukan apa yang mereka makan, apa yang mereka pakai, langsung dari produsen tanpa dicekik tengkulak.

Namun, di sinilah letak ironi kita yang paling pekat. Pemerintah acap kali datang seperti pembawa wahyu yang tergesa-gesa. Mereka melihat kemandirian sebagai proyek yang bisa diperintahkan dari atas (top-down). Melalui regulasi dan instruksi, koperasi-koperasi bentukan direkayasa dari meja-meja birokrat yang wangi, sekonyong-konyong menyuruh rakyat berhimpun tanpa ada ikatan batin yang mengikatnya. Hasilnya? Koperasi yang lahir sebagai papan nama, tanpa nyawa, mati sebelum sempat mekar.

Kita sekaya itu akan budaya mandiri. Han di Jepang atau Tanggung Renteng di Jawa Timur membuktikan bahwa ekonomi yang berdaya selalu tumbuh dari bawah (bottom-up). Pemerintah selayaknya bukan menjadi mandor yang mendikte bentuk sarang, melainkan menjadi tukang kebun yang menyiram tanah agar benih-benih organik itu tumbuh dengan caranya sendiri. 

Memaksa koperasi lahir dari atas adalah bentuk ketidakpercayaan akut pada kecerdasan rakyat sendiri.Sebab pada akhirnya, ekonomi kemandirian adalah tentang kedaulatan, bukan sekadar urusan neraca dagang yang rapi di atas kertas laporan tahunan.

Di bawah langit yang bergerak lambat,
Kita sering mengetuk pintu kekuasaan,
Meminta secangkir mandiri yang dijanjikan,
Padahal kunci gerbangnya ada di jemari sendiri.

Jangan biarkan hidupmu ditakar instruksi,
Sebab benih yang dipaksa tumbuh oleh titah,
Akan roboh oleh angin yang paling sepoi.
Kemandirian bukan hadiah dari singgasana,
Ia adalah api yang kau jaga bersama tetangga,
Di ronda malam, di sela arisan, di dalam rasa percaya.

(Penulis adalah Koordinator Timur Indonesia Bergerak: TIGER)