Mempertimbangkan Spirit Mondragon
Oleh Sarjono Amsan
Di sebuah sudut kota, kita dapat menemukan papan nama perguruan tinggi koperasi berdiri tegak.Namun di dalamnya, sunyi yang lain sedang bekerja. Kita mendapati sebuah ironi yang ganjil, sebuah lembaga pendidikan yang menyandang nama “koperasi” justru kerap terjebak dalam nalar birokrasi yang dingin, atau lebih buruk lagi, menjadi sekadar pabrik penghasil pelayan industri kapitalistik. Mengapa spirit lima pemuda Mondragon—Luis Usatorre, Jesús Larrañaga, Alfonso Gorroñogoitia, José María Ormaetxea, dan Javier Ortubay—gagal direplikasi di ruang-ruang kelas kita?
Barangkali, jawabannya terletak pada apa yang kita sebut sebagai “hasrat”. Lima lulusan pertama Escuela Politécnica Profesional di Mondragon tidak lahir dari kenyamanan kurikulum yang mapan. Mereka lahir dari rahim penolakan, dari ruang-ruang kelas alternatif yang didirikan oleh Pastor Arizmendiarrieta karena sekolah resmi menutup pintu bagi mereka. Ada kegelisahan eksistensial di sana. Ketika mereka bekerja dan menuntut reformasi manajemen yang demokratis, mereka ditolak. Penolakan itulah yang membakar keberanian untuk membeli lisensi perusahaan bangkrut dan melahirkan ULGOR pada tahun 1956.
Sementara itu, perguruan tinggi koperasi kita hari ini sering kali terjebak dalam formalisme. Koperasi diajarkan sebagai hafalan bab-bab teks, angka-angka sisa hasil usaha (SHU), dan prosedur administrasi yang menjemukan. Ia kehilangan watak subversifnya. Kita melupakan bahwa koperasi pada khitahnya adalah sebuah gerakan perlawanan terhadap ketimpangan, bukan sekadar alternatif unit usaha kecil yang menanti belas kasihan negara. Tanpa adanya “musuh bersama” berupa ketidakadilan sistemik yang disadari oleh mahasiswanya, pendidikan koperasi hanya menghasilkan para teknokrat yang patuh, bukan para pemangku perubahan.
Di sisi lain, ada kegagalan struktural dalam melihat di mana seharusnya benih ideologi ini ditanam. Kita cenderung mengotak-ngotakkan ilmu: nilai kerja sama ditaruh di fakultas sosial, sementara sekolah teknik dibiarkan menjadi menara gading yang melahirkan manusia-manusia mekanis. Ini adalah kekeliruan fatal bagi sebuah negara yang mendasarkan dirinya pada ideologi gotong royong.
Escuela Politécnica Profesional adalah sebuah sekolah teknik, bukan sekolah sosiologi. Namun, di sanalah ajaran sosial, solidaritas, dan demokrasi tempat kerja diinjeksikan langsung ke tangan-tangan yang memegang perkakas. Guru mereka paham: teknologi tanpa ideologi adalah mesin pembunuh kemanusiaan. Ketika para insinyur muda ini mengerti cara membuat kompor dan pemanas, mereka juga mengerti untuk siapa alat itu dibuat dan bagaimana keringat di atas lantai pabrik harus dihargai secara adil.
Sistem pendidikan teknik kita seharusnya dirombak total untuk mengemban misi ekonomi konstitusi. Lembaga pendidikan teknik tidak boleh lagi sekadar menjadi agen penyalur tenaga kerja murah bagi korporasi multinasional. Nilai-nilai kerja sama harus diletakkan sebagai basis epistemologis. Mahasiswa teknik harus diajarkan bahwa inovasi bukan untuk memperkaya segelintir pemilik modal, melainkan untuk memecahkan problem kolektif rakyat.
Mari kita bayangkan sebuah sekolah teknik di mana tugas akhirnya bukan sekadar menciptakan aplikasi atau mesin modular untuk efisiensi industri, melainkan merancang sebuah ekosistem produksi yang dimiliki bersama oleh para pekerjanya. Sebuah sistem yang sejak awal mengajarkan hukum-hukum keadilan distributif: bagaimana modal awal disetor bersama, bagaimana satu orang memiliki satu suara, dan bagaimana profit diinvestasikan kembali untuk jaminan sosial—seperti halnya Laboral Kutxa atau LagunAro di Mondragon.
Mondragon telah membuktikan hingga tahun 2026 ini bahwa mereka mampu bertahan melintasi krisis demi krisis, bukan dengan memecat manusia, melainkan dengan saling memotong gaji demi menyelamatkan kawan. Solidaritas semacam itu tidak datang dari langit. Ia dipahat sejak dari bangku sekolah teknik. Jika negara ini serius ingin menjadikan kerja sama sebagai basis ideologinya, maka roh Arizmendiarrieta harus dihidupkan kembali: bawalah nilai-nilai koperasi keluar dari ruang seminar yang ber-AC, dan tanamkan ia di bengkel-bengkel kerja, di laboratorium, dan di ujung jemari para calon insinyur kita.
(Penulis adalah Koordinator Timur Indonesia Bergerak: TIGER)













